KONTROVERSI TES NARKOBA
Kontroversi Tes NARKOBA Oleh dr. Muh. Hatta

By redaktur 17 Nov 2018, 08:40:42 WITA Artikel/Buletin
KONTROVERSI TES NARKOBA

Gambar : dr. Muhammad Hatta


Hasil pemeriksaaan tes urine narkoba yang dilaksanakan oleh Badan Narkotika Nasional(BNN) pada 10-11 Mei 2018, cukup mengejutkan. Seorang anggota DPRD Kota Makassar berinisial MM dinyatakan positif mengkonsumsi narkoba (Tribun Timur, 25 Juli 2018). Namun yang bersangkutan kemudian melakukan tes ulang di RSUD Kota Makassar pada 2 Juli 2018 dan hasilnya dinyatakan negatif. Perbedaan hasil tersebut menyebabkan kegamangan publik akan mekanisme  tes narkoba yang hasilnya berbeda satu sama lain. 

UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 menyebutkan BNN memiliki kewenangan untuk melakukan tes urine, darah ,rambut serta  bagian tubuh lainnya(Pasal 75). Dijelaskan dalam UU tersebut, bahwa tes bagian-bagian tubuh tersebut dilakukan sesuai perkembangan ilmu dan teknologi terbaru untuk membuktikan ada tidaknya narkotika dalam tubuh satu atau beberapa orang (Pasal 75 beserta penjelasannya). Peraturan Kepala(Perka) BNN No. 11/2011 pun menambahkan bahwa pengujian spesimen biologi urine dilakukan untuk keperluan pembuktian perkara(pro justitia) atau non pro justitia (untuk keperluan rehabilitasi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendidikan dan pelatihan). Dalam kasus MM, permintaan tes narkoba tersebut dikategorikan sebagai non pro justitia sebab hanya sebagai syarat administratif caleg. Itu sebabnya hasil positif yang didapatkan dari tes urine yang bersangkutan hanya dimasukkan ke dalam berita acara sebagai laporan kepada institusi yang meminta(DPD Golkar Sulsel).

Dari segi teknis pelaksanaan, tes narkoba tak seperti tes-tes kesehatan lainnya. Merujuk pada  SOP(standar prosedur) BNN, individu yang akan diambil sampel urinenya mesti melewati proses tanya jawab(anamnesa) terlebih dahulu dengan tenaga medis terlatih narkoba. Anamnesa tersebut meliputi antara lain makanan, minuman ataupun obat-obatan yang dikonsumsi dalam kurun waktu 3 hari terakhir. Tahapan ini didasari oleh fakta bahwa beberapa obat dan makanan dapat menimbulkan hasil "positif  palsu", seakan-akan individu tersebut telah mengkonsumsi narkoba. Beberapa obat-obatan yang dapat menimbulkan hasil tersebut antara lain adalah obat flu yang mengandung pseudoefedrin, antibiotika golongan quinolon(ciprofloxacin) serta Ranitidine(obat asam lambung). Hasil anamnesa ini sangat berguna untuk mengecek silang(cross check) pada individu-individu yang positif, agar terhindar dari kemungkinan kekeliruan pembacaan hasil.

Jika proses di atas selesai, dilanjutkan ke tahap pengambilan sampel. Dengan membawa botol sampel yang masih kosong, individu dipersilahkan untuk masuk ke dalam toilet yang hanya memiliki satu pintu masuk dan keluar. Ia harus masuk sendirian tak boleh ditemani siapapun. Hal ini untuk mencegah tertukarnya sampel urine baik disengaja maupun tidak sengaja. Yang berjaga di depan pintu masuk toilet adalah aparat kepolisian dan atau BNN, bukan tenaga pengamanan setempat,  guna mencegah  konflik kepentingan (conflict of interest). Selepas tahap ini, individu yang dites akan menyerahkan botol sampel yang telah terisi sembari menandatangani absensi berita acara.

Sesuai pasal 184 KUHAP, hasil tes narkoba yang tertera di dalam Berita Acara termasuk alat bukti "surat" yang berkekuatan hukum. Inilah poin utama pembeda tes urine narkoba dengan tes-tes kesehatan lainnya.

Dari sisi alat tes cepat(drug rapid test) yang digunakan, nampak perbedaan mencolok antara 2 hasil tes tersebut . Standar BNN menggunakan reagens dengan 6 parameter pemeriksa, yaitu tes amphetamine(AMPH), methamphetamine(METH), ganja(THC), kokain(COC), morfin(MOP) dan Benzodiazepin(BZO). Yang lazim tersedia pada institusi kesehatan seperti  RS dan Puskesmas  hanya menggunakan alat tes urine narkoba dengan 3 parameter saja(AMPH, THC dan MOP).

Jumlah urine yang diuji turut mempengaruhi hasil tes narkoba. Agar mencapai hasil maksimal, jumlah urine standar yang hendak diperiksa sebaiknya tak boleh kurang  dari 50 mililiter(Perka BNN 11/2011). Jumlah yang kurang dari angka tersebut akan menimbulkan interpretasi yang salah bahkan bisa negatif.

Jika sangat diperlukan, bisa dilakukan pemeriksaan ulang kasus ini dengan alat tes/metode yang berbeda. BNN memiliki alat tes narkoba dengan metode pengujian darah dan rambut. Seperti tes urine,tes narkoba dengan  metode pengujian darah hanya memiliki efektivitas kurang lebih satu minggu setelah pemakaian, sedangkan tes rambut dapat menjangkau pemakaian 3 hingga 6 bulan yang lalu. Proses pengulangan tersebut hendaknya tetap memakai standar prosedur yang sama, tak boleh berbeda. Prosedur yang berbeda, di bidang keamanan pelaksanaan tes misalnya, tentu saja akan menghasilkan luaran yang berbeda pula..

 

Muhammad Hatta

Dokter pada Badan Narkotika Nasional




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment



Time Line INFO BNN


JAJAK PENDAPAT

  • Korban penyalah guna Narkotika Lebih Baik Di Rehabilitasi Daripada Dipenjara, Menurut Anda?
      Sangat Setuju
      Kurang Setuju
      Tidak Setuju

KOMENTAR PENGUNJUNG

  • kata mutiara bahasa inggris

    suksess terus buat BNN ...

    View Article
  • kata mutiara bahasa inggris

    mantap pak, sosialisasinya kuat dan perlu ...

    View Article
  • Bray

    Assalamualaikum wr.wb. Saya ada saudara seorang Pecandu sabu yg sdh ingin bertaubat dan pernah ...

    View Article
  • Andi Pratama

    Apakah Pembuatan SKBN DI BNN DAERAH GRATIS MOHON INFO ...

    View Article

Link Terkait

STATISTIK PENGUNJUNG

  • User Online 3

  • Today Visitor 94

  • Hits hari ini 218

  • Total pengunjung 36464